Pileg PKPI jadi Penonton grafis- poskotanews

KPU sudah mengundi nomer 14 parpol peserta Pemilu-Pilpres 2019. Meski nomer itu tak sesuai harapan, mereka tetap ceria. Yang kasihan justru PKPI-PBB. Pemilu 2014 lalu tidak dapat kursi DPR. Sekarang ini, ibarat KA sudah mau berangkat, mereka tiket saja tak dapat. Andalannya, ketimbang jadi penonton, gugat saja ke Kepala Stasiun.

Sebetulnya, DPR itu lembaga penyambung lidah rakyat, atau penyambung perut sendiri agar tetap bisa goyang lidah? Sebab faktanya, banyak oknum DPR yang melupakan fungsinya sebagai wakil rakyat. Mereka justru mewakili dirinya sendiri.

Sekedar contoh, ketika oknum-oknum DPR itu main proyek, apakah pamit dan mengatasnamakan konstituennya? Begitu juga mereka bolos dan ketiduran dalam sidang-sidang DPR, apakah mereka juga berizin pada rakyat yang diwakili? Tentu saja tidak.

Untuk sekian kalinya, rakyat bakal dikempongi (dibodohi) kader parpol lagi. Parpol lama dan baru berebut ikut Pemilu 2019. Setelah diseleksi dan diwarnai gugatan ke Bawaslu, akhirnya dipastikan bahwa hanya 14 parpol yang bisa ikut Pemilu-Pilpres 2019 mendatang. Sepuluh nomer merupakan parpol lama, dan 4 lainnya parpol pendatang baru.

Minggu malam lalu 14 parpol itu mengikuti undian penentuan nomer parpol. Semua berharap dapat nomer cantik, tapi tak semuanya terkabul. Partai Demokrat misalnya, berharap dapat nomer 9, sehingga pas dengan nomer favorit Ketumnya, SBY . Tapi yang didapat malah nomer buncit, 14. Sedangkan nomer idolanya justru digondol Perindo. Andaikan bisa, tentunya Demokrat akan mendekati Perindo, “Yuk kita tukar tambah!”

Mungkin PKB paling bergembira, karena dapat No. 1, yang katanya ini berkat doa kiai dan kader PKB. Golkar yang berharap dapat nomer 2 seperti masa kejayaannya dulu di era Orde Baru, malah dapat No. 4. Tapi kata Ketum Erlangga Hartarto, itu pertanda bahwa Golkar mendukung 4 pilar yang diinisiasi oleh Taufik Kiemas.

Yang kasihan justru PBB-nya Yusril Ihza Mahendra dan PKPI-nya AM Hendro Priyono. Ibarat orang mau naik KA Jakarta-Surabaya, mereka sama sekali tak memperoleh tiket. Ketika KA sudah mau jalan seiring dengan bunyi peluit Kepala Stasiun, PBB-PKPI baru mau menggugat ke Kepala Stasiun selaku PPKA (Pemimpin perjalanan Kereta Api). Bisa dikabulkan, bisa juga tetap ditolak.***(poskotanews)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here