Begini Sepak Terjang Bripka Popy Nyamar jadi PSK Ganti Nama jadi Dewi

0
33
Bripka Popy Puspasari. ©2021 Merdeka.com

RRINEWS.COPada tahun 2018 lalu, Bripka Popy Puspasari, ketika itu masih brigadir, jadi berbincangan hangat. Polwan cantik itu berhasil membongkar kasus perdagangan manusia di Bali dengan menyamar sebagai seorang PSK. Ketika itu, bersama rekannya, Bripda Fitria, berhasil menyusup ke vila tempat para PSK dipekerjakan.

Bripka Popy Puspasari merupakan seorang polisi wanita yang bertugas di Unit Perlindungan Perempuan dan Anak Satuan Reserse Kriminal Polres Garut. Setidaknya, di unit tersebut ia sudah bekerja selama 10 tahun, atau mulai tahun 2011.

Menjadi polisi, bagi Popy mengandung arti siap memberikan pelayanan kepada masyarakat secara kafah dan tanpa lelah. Bagaimana tidak, di tahun 2018 dia mengaku harus sampai menyamar menjadi pekerja seks komersial (PSK) demi mengungkap kasus perdagangan orang di Pulau Dewata, Bali.

Cerita itu berawal saat unitnya menerima laporan seorang warga Garut yang kehilangan anggota keluarganya yang masih di bawah umur.

“Saat melapor ke kita, anak perempuan ini mengaku akan dipekerjakan sebagai pelayan di Bandung di sebuah kafé, tapi setelah itu keluarganya hilang kontak,” ujarnya saat ditemui di Mapolres Garut, Jumat (16/4).

Setelah pihaknya melakukan penelusuran, ternyata korban diketahui berada di Bali setelah dijual oleh seseorang pencari ‘bakat’. Jumlah korban pun ternyata tidak satu orang saja, namun diketahui ada dua orang warga Garut yang mengalami kondisi serupa di Pulau Dewata.

Tim Reskrim Polres Garut kemudian melakukan penyelidikan akan kasus itu, dan berhasil menangkap seorang penghubung korban dengan bos di Bali di wilayah Bandung. Tim pun kemudian melakukan pengembangan dan merencanakan skema pengungkapan.

“Melakukan penyamaran menggunakan penghubung itu. Jadi foto saya oleh pelaku yang sudah diamankan bersama satu lainnya dikirimkan ke bosnya, ngakunya akan dijadikan PSK. Jadi kaya profiling gitu. Ternyata bosnya menyetujui dan menunggu saya di Bali,” kata wanita kelahiran Indramayu, 5 Mei 1988 ini.

Mendapat respons baik dari bos di Bali, ia pun bersama penghubung itu berangkat ke Pulau Dewata menggunakan pesawat. Tim lainnya menyusul menggunakan pesawat berbeda agar tidak mencurigakan.

Popy mengaku bahwa saat dirinya berangkat ke Bali untuk melakukan penyamaran sebagai PSK, segala atribut kepolisian hingga senjata api ditanggalkan agar tidak menimbulkan kecurigaan. “Ya modal doa saja dan kemampuan bela diri polisi,” akunya.

Walau begitu, Popy mengaku bahwa ada rasa takut yang muncul dalam diri, apalagi saat itu ia sudah memiliki anak. Namun karena sudah menyadari bahwa apa yang dilakukan adalah bagian dari tugas yang harus dijalankan, ia dengan yakin melangkah dan memantapkan hati.

“Sebelum berangkat ya minta doa lah ke orang tua, ke siapa. Ini kan betul-betul saya sama temen saja berdua, pasti takut apa-apa dan di apa-apa. Walau sudah dibekali bela diri polisi, tetap saja ada rasa takut mah ya, namanya juga manusia,” katanya.

Sepanjang perjalanan, Popy mengaku terus melawan rasa takut tersebut, hingga akhirnya ia pun sampai di bandara I Ngurah Rai, Bali. Dari sana ia pun ia bergerak ke wilayah Sanur, tepatnya di salah satu villa di kawasan tersebut.***[cob/MRD]

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here