INGAT YA! Kemenkes Tegaskan Swab hanya untuk Pasien Covid-19, OTG Hanya Isolasi 14 Hari

0
44
proses melakukan swab test

RRINEWS.CO

Hal itu disampaikan Staf Khusus Bidang Peningkatan Sumber Daya Manusia, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, dr Maria Mubarika, Selasa (6/10/2020) di Gedung Daerah Riau, Pekanbaru.

“Yang di-swab hanya pasien terkonfirmasi Covid-19 yang bergejala saja. Sedangkan OTG cukup dengan melakukan isolasi mandiri selama 14 hari, dan setelah itu virusnya akan mati dengan sendiri,” sebut Maria.

Untuk kebijakan ini, katanya pihaknya telah mengaturnya sedemikian rupa, sesuai dengan kebutuhan. “Jadi swab hanya dilakukan untuk pasien yang bergejala. Sedangkan bagi kontak erat dan tidak bergejala cukup isolasi mandiri saja,” terangnya lagi.

Dengan perubahan kebijakan sekarang, ini bukan berarti melemahnya pemerintah dalam melawan Covid-19. Namun kebijakan tersebut diambil agar pemerintah bisa fokus menyelamatkan orang-orang yang rentan terhadap Covid-19.

“Bukan untuk melemahkan, tapi kita fokus mana yang lebih penting. Jadi kita fokus untuk orang-orang yang bergejala yang dilakukan swab, sedangkan yang tidak bergejala cukup isolasi mandiri. Harap semua percaya, itu akan aman-aman saja,” ucapnya.

Maria memang mengakui bahwasanya protokol kesehatan terkait Covid-19 memang selalu berubah-ubah. Bahkan walau masih segar dalam ingatan masyarakat.

“Contoh awal wabah ini muncul, dan mulanya WHO hanya mewajibkan pengguna masker itu untuk tenaga medis dan pasien Covid-19 saja. Namun seiring berjalannya waktu dan terus meluasnya kasus Covid-19, akhirnya WHO mengeluarkan aturan lagi, seluruh masyarakat, baik yang sakit maupun yang sehat wajib menggunakan masker,” jelasnya.

“Jadi artinya kita semua mengikuti perkembangan sains terbaru, jadi perubahan itu dilakukan bukan sebagai bentuk Inkosistensi (mudah berubah – rubah),” katanya lagi.

Lebih lanjut dijelaskannya, untuk ke depan bisa saja protokol kesehatan yang saat ini dijalankan untuk mencegah penyebaran Covid-19 dikurangi kerana dianggap berlebihan.

“Dan hal itu bisa saja dilakukan karena kita mengikuti perubahan karakteristik virus, yang harus diikuti dengan perubahan pencegahan,” terangnya.

Untuk diketahui, sebutnya, sampai saat ini saja Kemenkes sudah lima kali melakukan perubahan pedoman protokol kesehatan guna mencegah penularan Covid-19. Hal tersebut dikarenakan ada beberapa poin yang dianggap berlebihan dan tidak memiliki landasan akademis.

“Bahkan negara – negara dengan latar belakang politik apapun mengikuti saint terbaru untuk dapat menyelamatkan warganya,” tuturnya.***(hlr)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here