Covid-19 Belum Reda, Kini Waspada Virus Nipah dari Malaysia

0
21

RRINEWS.COPemerintah Provinsi Kepri mengimbau kepada warga Kepri agar waspada terhadap Virus Nipah yang kini juga merebak di Malaysia.

Hal tersebut dikatakan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kepri Mochammad Bisri. Apalagi menurut Bisri, Provinsi Kepri dan Malaysia merupakan wilayah berbatasan secara langsung.

“Kepri dan Malaysia ini berbatasan langsung, walau dibatasi lautan. Namun, tidak menutup kemungkinan Virus Nipah ini bisa menyeberang ke Kepri dengan perantara orang, barang, binatang dan produk makanan dan buah-buhan dari Malysia,” kata Bisri, Senin (1/2/2021).

Untuk itu tegas Bisri dirinya mengajak semua pemangku kebijakan, seperti Kantor Kesehatan Pelabuhan dan Balai Karantina Pertanian dapat memperketat arus lalu lintas penumpang dan barang di pintu-pintu masuk di Kepri.

“Kita sangat berharap kepada mereka dari segi pengawasan untuk menjaga agar virus apapun dari luar negeri tidak masuk ke daerah kita,” harap Bisri.

Virus Nipah tersebut lanjut Bisri berpotensi menyebar ke Indonesia melalui perantara hewan ternak, seperti babi dan kelelawar pemakan buah dari Malaysia.

Ia mengingatkan masyarakat terutama anak-anak untuk tidak mengonsumsi buah bekas gigitan kelelawar, misalnya mangga dan jambu.

Saat membeli buah-buahan di pasar, warga harus mencuci terlebih dulu dengan bersih agar benar-benar fresh dan sehat.

“Virus Nipah memang belum dilaporkan terjadi di Indonesia, khususnya Kepri. Tapi kita wajib waspada, apalagi WHO menyatakan kalau virus ini berpotensi jadi pandemi,” ujarnya.

Sebelumnya, Tim Pengawasan dan Penindakan (P2) Karantina Pertanian Tanjungpinang melaksanakan Operasi Patuh Karantina di Pelabuhan ASDP Tanjung Uban, Sabtu (30/1/2021) lalu.

Kepala Karantina Pertanian Tanjungpinang, Raden Nurcahyo Nugroho mengatakan, apabila ditemukan pelanggaran maka pihaknya mengedepankan untuk mengedukasi masyarakat untuk patuh dan lapor karantina.

“Virus Nipah yang terjadi di Malaysia harus menjadi kewaspadaan kita semua, karena penyakit ini bersifat zoonosis yang artinya dapat menular dari hewan ke manusia,” kata Raden.

Operasi patuh karantina merupakan eksistensi Pejabat Karantina Pertanian ke masyarakat di semua tempat pemasukan dan pengeluaran, baik itu di pelabuhan maupun bandara.

Operasi patuh juga bertujuan untuk meningkatkan sinergitas dengan instansi terkait di pelabuhan, sehingga hasil operasi patuh akan menjadi bahan evaluasi dan penentu kebijakan pimpinan.

Virus Nipah Jadi Ancaman Pandemi Baru

Semua virus dari hewan dapat menular ke manusia lalu menular antar manusia dapat berpotensi sebagai pandemi baru termasuk dalam hal ini virus nipah. Hal tersebut dipaparkan oleh pakar mikrobiologi dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada ( UGM) Prof. Tri Wibawa melalui situs resmi UGM, Senin (1/2/2021).

Namun begitu, Tri mengatakan banyak faktor yang menyebabkan suatu virus menjadi wabah di antaranya tingkat virulensi virus, cara penularan, angka mortalitas dan mortalitas penyakit yang ditimbulkan.

“Selain itu, ada faktor respons imun manusia, perilaku manusia, kesiapan surveilans kesehatan, dan kesiapan sistem kesehatan untuk merawat pasien,” paparnya dalam laman UGM.

Oleh karena itu, saran dia, masyarakat perlu selalu menjaga kebersihan dan cara hidup sehat Tingkat kematian virus nipah hingga 75 persen Virus nipah pernah muncul di Malaysia pada tahun 1998-1999 yang sempat menular ke Singapura.

Pada tahun 2001-2004 dilaporkan virus Nipah muncul di Bangladesh. Berdasarkan laporan dari WHO tingkat kematiannya antara 40-75 persen. Menurut Tri Wibawa, antisipasi yang diperlukan untuk mencegah virus nipah menjadi pandemi baru dengan meningkatkan surveilans epidemiologi penyakit menular.

Selain itu, kata dia, termasuk juga melakukan penelitian dalam bidang pencegahan, diagnosis, dan pengobatan penyakit infeksi virus nipah. “Pencegahan di sini termasuk pengembangan vaksin,” kata Tri.

Ia menyebutkan manifestasi klinis dari infeksi virus nipah ini bisa mulai dari yang tidak bergejala, infeksi saluran nafas akut, dan infeksi otak. “Gejalanya tidak khas sehingga tidak mudah untuk dibedakan dengan gejala penyakit infeksi umumnya,” katanya.
Melihat munculnya beberapa penyakit zoonosis yang selalu berpotensi muncul setiap saat selama masih adanya dinamika interaksi manusia dengan hewan dan lingkungan, Tri menyarankan sejumlah tindakan pencegahan.

Tindakan yang perlu dilakukan antara lain meningkatkan derajat kesehatan manusia dengan selalu menjaga keharmonisan interaksi antara manusia, hewan dan lingkungan, atau yang sering disebut sebagai pendekatan one health. ***(sut/btmn)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here